TEORI
ORGANISASI UMUM 2
KOMUNIKASI
DISUSUN OLEH :
NAMA : HUSNUL CHOTIMAH
NPM : 13115180
KELAS : 2KA16
UNIVERSITAS GUNADARMA
TAHUN AJARAN 2016/2017
Kata Pengantar
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat sehingga
saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan
saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.
Makalah
ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki belum
cukup banyak. Oleh karena itu saya harapkan kepada pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Jakarta, 13 Oktober
2016
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
Seperti
yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dari yang
namanya komunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi
secara langsung salah satunya adalah dengan cara bertemu dan bertatp muka
secara langsung sedangkan komunikasi secara tidak langsung bias melalui
perantara orang ketiga yang menyampaikan pesan nantinya. Hal ini pasti selalu
ada di dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi sifat manusia itu sendiri adalah
makhluk social yaitu makhluk yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain.
Salah satu bentuk konkret dari interaksi ini adalah komunikasi tersebut.
BAB
II
PEMBAHASAN
1.1 Pengertian
dan Arti Penting Komunikasi
Komunikasi adalah
suatu proses atau kegiatan penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain
untuk mencapai tujuan tertentu. Komunikasi adalah prasyarat kehidupan manusia.
Kehidupan manusia akan tampak hampa apabila tidak ada komunikasi. Karena tanpa komunikasi,
interaksi antar manusia, baik secara perorangan, kelompok, ataupun organisasi
tidak mungkin dapat terjadi. Dua orang dikatakan melakukan interaksi apabila
masing-masing melakukan aksi dan reaksi. Aksi dan reaksi dilakukan manusia baik
secara perorangan, kelompok, atau organisasi.
Sebagai makhluk
sosial, kita tidak bisa menghindar dari tindakan komunikasi menyampaikan dan
menerima pesan dari dan ke orang lain. Tindakan komunikasi ini terus menerus
terjadi selama proses kehidupannya. Prosesnya berlangsung dalam berbagai
konteks baik fisik, psikologis, maupun sosial, karena proses komunikasi tidak
terjadi pada sebuah ruang kosong. Pelaku proses komunikasi adalah manusia yang
selalu bergerak dinamis. Komunikasi menjadi penting karena fungsi yang bisa
dirasakan oleh pelaku komunikasi tersebut. Melalui komunikasi seseorang
menyampaikan apa yang ada dalam benak pikirannya dan perasaan hati nuraninya
kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui
komunikasi seseorang dapat membuat dirinya tidak merasa terasing atau terisolasi
dari lingkungan di sekitarnya.
1.2 Jenis
dan Proses Komunikasi
Jenis Komunikasi
Jenis-jenis Komunikasi, yaitu:
1.
Komunikasi Intrapribadi
Komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication)
adalahkomunikasi dengan diri sendiri, baik kita sadari atau tidak.
Misalnyaberpikir.
2.
Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah
komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yangmemungkinkan respon verbal
maupun nonverbal berlangsung secara langsung. Bentuk khusus komunikasi
antarpribadi ini adalah komunikasi diadik (dyadic communication) yang hanya
melibatkan dua individu,misalnya suami- istri, dua sejawat, guru-murid.
Ciri-ciri komunikasi diadik adalah pihak- pihak yang berkomunikasi berada dalam
jarakyang dekat; pihak-pihak yang berkomunikasi mengirim dan menerimapesan
secara langsung dan simultan.
3.
Komunikasi Kelompok (Kecil)
Komunikasi kelompok
merujuk pada komunikasi yang dilakukan sekelompok kecil orang (small-group
communication). Kelompok sendiri merupakan sekumpulan orang yang mempunyai
tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama,
saling mengenal satu sama lain, dan memandang mereka sebagai bagian dari
kelompok tersebut. Komunikasi antarpribadi berlaku dalam komunikasi kelompok.
4.
Komunikasi Publik
Komunikasi publik adalah komunikasi antara seorang pembicara
dengan sejumlah orang (khalayak), yang tidak bisa dikenali satu persatu.
Komunikasi publik meliputi ceramah, pidato, kuliah, tabligh akbar, dan
lain-lain. Ciri-ciri komunikasi publik adalah: berlangsung lebih
formal;menuntut persiapan pesan yang cermat, menuntut kemampuanmenghadapi sejumlah
besar orang; komunikasi cenderung pasif; terjadi di tempat umum yang dihadiri
sejumlah orang; merupakan peristiwayang direncanakan; dan ada orang-orang yang
ditunjuk secara khususmelakukan fungsi-fungsi tertentu.
5.
Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi (organizational communication) terjadi
dalam suatu organisasi, bersifat formal dan informal, dan berlangsung dalam
jaringan yang lebih besar dari komunikasi kelompok. Komunikasi organisasi juga
melibatkan komunikasi diadik, komunikasi antarpribadi, dan komunikasi publik
tergantung kebutuhan.
6.
Komunikasi Massa
Komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi
yangmenggunakan media massa cetak maupun elektronik yang dikelola sebuah
lembaga atau orang yang dilembagakan yang ditujukan kepada sejumlah besar orang
yang tersebar, anonim, dan heterogen. Pesan- pesannya bersifat umum,
disampaikan secara serentak, cepat dan selintas.
Proses Komunikasi
Proses komunikasi
adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga
dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya.
Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif
(sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi, banyak
melalui perkembangan.
Proses komunikasi
dapat terjadi apabila ada interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan
untuk mewujudkan motif komunikasi.
Tahapan proses komunikasi adalah sebagai
berikut :
1)
Penginterpretasian.
2)
Penyandian.
3)
Pengiriman.
4)
Perjalanan.
5)
Penerimaan.
6)
Penyandian balik.
7)
Penginterpretasian.
1.3 Komunikasi Efektif
Pengertian
Ø Komunikasi Efektif
adalah komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change)
pada orang yang terlibat dalam komunikasi.
Ø Komunikasi Efektif
adalah saling bertukar informasi, ide, kepercayaan, perasaan dan sikap antara
duaorang atau kelompok yang hasilnya sesuai dengan harapan.
Unsur-unsur dalam
membangun komunikasi efektif :
ü Berhadapan.
ü Mempertahankan kontak
mata.
ü Membungkuk ke arah
klien.
ü Mempertahankan sikap
terbuka.
ü Tetap relax
Syarat-syarat untuk
berkomunikasi secara efektif adalah antara lain :
·
Menciptakan suasana yang menguntungkan.
·
Menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan
dimengerti.
·
Pesan yang disampaikan dapat menggugah
perhatian atau minat di pihak komunikan.
·
Pesan dapat menggugah kepentingan dipihak
komunikan yang dapat menguntungkannya.
·
Pesan dapat menumbuhkan sesuatu penghargaan
atau reward di pihak komunikan.
2.1 Teori dan Arti Kepemimpinan
Kepemimpinan
adalah suatu proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pimpinan kepada
pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan yang lebih rill dan berkomitmen bersama
dalam pencapaian tujuan dan perubahan budaya organisasi yang lebih maju.
Pemimpin
pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku
orang lain didalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaannya. kekuasaan itu
sendri merupakan suatu kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan
sehubungan dengan tugas-tugas yang dilaksanakan.
Seorang
pemimpin harus bisa memadukan unsur-unsur kekuatan diri, wewenang yang diiliki,
ciri-ciri kepribadian dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi perilaku
seseorang. oleh karena itu, dalam proses kepemimpinan telah muncul beberapa
teori kepemimpinan. didalam teori kepemipinan terdapat beberapa macam teori ,
diantaranya Great man theory, teori sifat, perilaku, kepemimpinan situasional
dan kharismatik.
1)
Great man theory
Teori ini mengatakan bahwa pemimpin
besar(great leader) dilahirkan, bukan dibuat(leader are born, not made). dan
dilandasi oleh keyakinan bahwa pemimpin merupakan orang yang vmeiliki
sifat-sifat luar biasa dan dilahirkan dengan kualitas istimewa yang dibawa
sejak lahir dan ditadirkan menjadi seorang pemimpin diberbagai macam
organisasi. Teori graet man didasarkan pada gagasan bahwa setiap kali ada
kebutuhan, maka munculah seorang manusia yang luar biasa dan memacahkan
masalah. teori ini secara garis besar merupakan penjelasan tentang orang besar
dengan pengaruh individualnya berupa charisma, intelegensi, kebijaksanaan, atau
dalam bidang politik tentang kebijaksanaan yang berdapak terhadap sejarah.
2)
Teori sifat
Teori sifat kepemipinan membedakan pada
pemimpin dari mereka yang bukan pemimpin dengan cara berbagai sifat dan
karakteristik pribadi masing-masing. pada teori ini bertolak dari dasar
pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemipin ditentukan oleh sifat-sifat atau
ciri-ciri yang dimiliknya. dalam mencari ciri-ciri kepemimpinan yang dapat
diukur, para peneliti menggunakan dua pembanding yaitu mereka berusaha
membandingkan ciri-ciri dari dua orang yang muncul sebagai pemimpin dengan ciri
tidak demikian dengan membandingkan mereka yang memiliki ciri pemimpin yang
efektif.
Adapun kelemahan dari
seorang pemipin pada teori sifat diantaranya sebagai berikut :
i.
Terlampau banyak sifat yang harus dimiliki
oleh seorang pemimpin mengabaikan unsur follower dan situasi serta pengaruhnya
terhadap efektivitas pemimpin
ii.
Tidak semua cocok untuk segala situasi
iii.
Terlampau banyak memusatkan pada sifat-sifat
kepemimpinan dan mengabaikan apa yang sebenarnya dilakukan oleh pemimpin
3)
Teori Perilaku
Teori perilaku disebut juga dengan teori
sosial dan merupakan sanggahan terhadap teori genetis. teori ini tidak
menekankan pada sifat-sifat atau kualitas yang harus dimiliki oleh seorang
pemimpin tetapi memusatkan pada bagaimana cara aktual seorang peimpin dalam
dalam berperilaku dalam mempengaruhi orang lain dan hal ini dipengaruhu oleh
gaya masing-masing pemimpin. Dasar pemikiran teori ini adalah kepemipinan
merupakan perilaku individu ketika elakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok
kearah pencapaian tujuan. teori ini memendang bahwa kepemimpinan dapat
dipelajari dari pola tingkah laku, bukan dari sifat-sifat seorang pemimpin
4)
Kepemipinan situasional
Teori Kepemimpinan Situasional adalah suatu
pendekatan terhadap kepemimpinan yang menganjurkan pemimpin untuk memahami
perilaku bawahan, dan situasi sebelum menggunakan perilaku kepemimpinan
tertentu. Teori ini muncul sebagai reaksi terhadap teori perilaku yang
menempatkan perilaku pemimpin dalam dua kategori yaitu otokratis dan
demokratis. Teori ini menitikberatkan pada berbagai gaya kepemimpinan yang
paling efektif diterapkan dalam situasi tertentu. Keefektifan kepemimpinan
tidak tergantung pada gaya tertentu terhadap suatu situasi, tetapi tergantung
pada ketepatan pemimpin berperilaku sesuai dengan situasinya.
2.2 Tipologi Kepemimpinan
Dalam praktiknya, dari
ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di
antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).
1.
Tipe Otokratis.
Seorang
pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai
berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, Mengidentikkan tujuan
pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata,
Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada
kekuasaan formalnya, Dalam tindakan pengge-rakkannya sering mempergunakan
pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
2.
Tipe Militeristis
Perlu
diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe
militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang
pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki
sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih
sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada
pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut
disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari
bawahannya, Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
3.
Tipe Paternalistis.
Seorang
pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang
memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang
tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan
fantasinya, dan sering bersikap maha tahu.
4.
Tipe Karismatik.
Hingga
sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang
pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian
mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai
pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula
tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena
kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang
karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi
dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil
tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah
seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John
F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih
muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil,
Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.
5.
Tipe Demokratis
Pengetahuan
tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah
yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe
kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses
penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu
adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan
kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari
pada bawahannya, senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari
bawahannya, selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha
mencapai tujuan, ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada
bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu
tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat
kesalahan yang lain, selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses
daripadanya, dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai
pemimpin.
Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi
pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang
demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin
berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan
Pemimpin
Hadari (2003;70)
menjelaskan bahwa unsur-unsur dalam kepemimpinan adalah
I.
Adanya seseorang yang berfungsi memimpin, yang disebut
pemimpin (leader).
II.
Adanya orang lain yang dipimpin
III.
Adanya kegiatan yang menggerakkan orang lain yang dilakukan
dengan mempengaruhi dan pengarahkan perasaan, pikiran, dan tingkah lakunya
IV.
Adanya tujuan yang hendak dicapai dan berlangsung dalam suatu
proses di dalam organisasi, baik organisasi besar maupun kecil.
Sejalan dengan pendapat Hadari tersebut,
Poernomosidhi Hadjisarosa (1980;33) selanjutnya merinci faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku kepemimpinan yang tidak dapat dilepaskan dari sifat
kepemimpinan itu sendiri.
Faktor-faktor tersebut, adalah sebagai
berikut:
1.
Dapat menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain
a. Harus menguasai bidang
kerjanya (tanpa kecuali)
b. Bersikap ulet
c. Diimbangi dengan
keluwesan
2.
Melalui orang lain
a.
Mampu berorganisasi
b.
Mampu berkomunikasi
c.
Bersikap manusiawi
3.
Dalam kerangka tanggungjawab
a.
Melakukan tanggungjawab secara proporsional
b.
Dapat dipercaya
c.
Berjiwa stabil
4.
Disertai dengan kepribadian
a.
Dapat memelihara dan mengembangkan entusiasme
b.
Bersikap tanggap dan tenang
5.
Dan pengendalian ke dalam
a.
Bersikap obyektif
b.
Mampu mengkoreksi diri
c.
Merasa dapat diganti
6.
Dengan keseimbangan dalam pertimbangan
a.
Keseimbangan antara keuletan dan pengertian
b.
Keseimbangan antara pengetahuan dan tindakan
c.
Kesimbangan antara kemajuan dan etika
7.
Dan kelebihan dalam wawasan
a.
Dalam membawakan produktivitas kerja pegawai
b.
Dalam menjangkau gambaran masa depan
c.
Ketangguhan dalam menghadapi tantangan berat
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Komunikasi
adalah adanya sebuah proses interaksi atau penyampaian pesan (berupa informasi
atau berita) dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok ataupun organisasi
dan masyarakat yang menyampaikan sebuah informasi (pesan, ide atau gagasan).
Begitupun kaitannya dengan manusia yang mempunyai sifat social yaitu tidak bias
hidup tanpa bantuan orang lain. Jadi komunikasi sangatlah penting.
Daftar
Pustaka

No comments:
Post a Comment