Basis data
atau disebut juga database, terdiri dari dua penggalan kata yaitu data dan
base, yang artinya berbasiskan pada data, secara konseptual, database diartikan
sebuah koleksi atau kumpulan data-data yang saling berhubungan (relation),
disusun menurut aturan tertentu secara logis, sehingga menghasilkan informasi.
Untuk mengelola database tersebut dibutuhkan
software atau aplikasi. Software untuk mengelola database merupakan
aplikasi yang digunakan oleh user untuk mengelola dan
memanggil database tersebut. Pengelolaan dan pemanggilan query basis
data disebut dengan sistem management basis data (database management
system). Contoh software database diantaranya adalah DB2, Microsoft SQL
Server, Oracle, Sybase, Interbase, XBase, MySQL, Microsoft Access, dBase III,
FoxPro, dan lain-lain.
Perkembangan
teknologi database saat ini sudah sangat pesat, hal ini dibuktikan dengan
banyaknya bentuk-bentuk baru dari database. Contohnya, jika dulu database hanya
berfungsi sebagai tempat penyimpanan data yang terdiri dari Field, record dan
diolah serta ditampilkan menjadi informasi dalam berbagai format tampilan yang
sederhana, kemudian dari bentuk yang sederhana tersebut didapatkan suatu metode
yang menampilkan suatu database dan berguna untuk menganalisa data. Dengan
memanfaatkan relational database yang sudah ada, maka diperoleh suatu cara
untuk mengantisipasi kebutuhan guna menganalisa data secara cepat untuk
membantu mendapatkan keputusan dalam suatu aplikasi atau organisasi.
Salah satu
contoh teknologi database saat ini adalah dimana seorang design web dapat
membuat web dengan menarik karena sudah ada database generasi baru yang biasa
di sebut oracle. Dengan oracle inilah para pelaku design web bisa membuat
webnya dengan penuh keunikan dan tampilan yang lebih menarik.
Tahun 1960
Dari awal
penggunaan komputer, penyimpanan dan manipulasi data merupakan fokus utama aplikasi.
Pada awal tahun 1960, Charles Bachman diperusahaan General Electric mendesain
generasi pertama DBMS yang disebut Penyimpanan Data Terintegrasi (Integrated
Data Store). Dasar untuk model data jaringan dibentuk lalu distandardisasi oleh Conference on Data
System Language (CODASYL). Kemudian, Bachman menerima ACM Turing Award
(Penghargaan semacam nobel pada ilmu komputer ) di tahun 1973.
Pada akhir
tahun 1960-an, IBM mengembangkan system manajemen informasi (Information
Manajemen System) DBMS. IMS dibentuk dari representasi data pada kerangka
kerja yang disebut model data hierarki. Dalam waktu yang sama, hasil kerja sama
antara IBM dengan perusahaan penerbangan Amerika mengembangkan system SABRE.
System SABRE memungkinkan user mengakses data yang sama pada jaringan computer.
Tahun 1970
Pada tahun
1970, Edgar Codd di laboratorium penelitian di San Jose mengusulkan suatu
representasi data baru yang disebut model data relational. Pada tahun 1980,
model relasional menjadi paradigm DBMS yang paling dominan. Bahasa query SQL
dikembangkan untuk basis data relasional sebagai bagian dari proyek Sistem R
dari IBM. SQL di standardisasi di akhir tahun 1980 dan SQL-92 diadopsi oleh
American National Standards Institute (ANSI) dan International Standards
Organization (ISO). Program yang digunakan untuk eksekusi bersamaan dalam
basisdata disebut transaksi. User menulis programnya, dan bertanggung jawab
penuh untuk menjalankan program secara bersamaan terhadap DBMS. Pada tahun
1999, James Gray memenangkan Turing award untuk kontribusinya pada manajemen
transaksi dalam DBMS.
Perkembangan
komputer yang semakin pesat yang diikuti dengan perkembangan perangkat lunak
untuk aplikasi bisnis, sejak tahun 1970-an sampai awal tahun 1980 manajemen
berbasis file tradisional berkembang menjadi manajemen basis data. Di dalam
manajemen basis data dikenal berbagai model data yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan
sebuah data dalam merancang suatu basis data.
Perbedaan
Basis Data Aktif dan Pasif Sistem basis data konvensional disebut basis data
pasif, dalam arti manipulasi data dapat dijalankan oleh database hanya dengan
perintah langsung oleh pengguna atau program aplikasi yang terletak
di luar basis data. Sedangkan basis data aktif merupakan pengembangan dari
database yang memindahkan sifat reactive program ke dalam database. Salah satu
contok integrity constraint seperti adanya data tertentu yang harus memenuhi
nilai unik atau beberapa data yang berfungsi secara efisien dapat dilakukan
oleh basis data aktif, akan tetapi di dalam basis data pasif yang harus
diprogram di dalam aplikasi adalah integrity constraint dan triggers. Basis
data pasif memiliki keterbatasan untuk mengontrol bentuk-bentuk harus berisi
keterhubungan dengan data lain. Selain itu pada penggunaan triggers pada basis
data pasif, jika terjadi perubahan pada konstrain atau triggers itu sendiri
maka harus bisa menemukan dan memodifikasi program atau kode yang relevan di
setiap aplikasi.
Sedangkan
pada basis data aktif, memiliki kemampuan untuk mengontrol integrity constraint
pada keseluruhan database dan penggunaan triggers yang mampu menjalankan suatu
aksi ketika mendeteksi suatu kejadian tertentu tanpa mencari kode-kode yang
relevan pada program aplikasi untuk ikut diubah. Arsitektur Basis Data aktif
yang sering digunakan termasuk dalam sistem arsitektur berlapis ( layered
architecture ) dimana semua komponen basis data aktif terletak “di atas” basis
data konvensional.
Tahun 1980
Pada akhir
tahun 1980 dan permulaan tahun 1990, banyak bidang system basis data yang
dikembangkan. Penelitian dibidang basis data meliputi bahasa query yang powerful,
model data yang lengkap, dan penekanan pada dukungan analisis data yang
kompleks semua bagian organisasi. Beberapa vendor (misalnya IBM, DB2, Oracle8,
dan Informix UDS) memperluas sistemnya dengan kemampuan menyimpan tipe data
baru misalnya image dan text serta kemampuan query yang kompleks. System khusus
dikembangkan banyak vendor untuk membuat data
warehouse dan
mengonsolidasi data beberapa basisdata.
Perkembangan
dan pemanfaatan teknologi informasi (TI) yang pesat dewasa ini telah menjadikan
TI sebagai kekuatan pendorong bagi reformasi di berbagai bidang, sehingga
berdampak pula terhadap pembangunan sosial dan ekonomi sekarang dan di masa
mendatang. TI melahirkan era baru yaitu berbagai barang dan jasa dibeli, dikirim,
dibayar, dan digunakan tanpa meninggalkan system informasi dan jaringan
komunikasi.
Dampak dari
era reformasi 1998 benar-benar membawa dampak yang signifikan dalam
perkembangan dunia telekomunikasi, informatika dan intenet. Tirani dan monopoli
dari rezim terdahulu seakan benar-benar tersingkirkan akibat adanya reformasi
tersebut.Dan seiring semakin terbukanya pintu perdagangan dan arus informasi
maka layanan yang dahulu mungkin hanya bisa dinikmati oleh beberapa kalangan
elit dan berduit kini sudah bisa dinikmati oleh masyarakat lebih luas, sebut
saja layanan TV kabel berlangganan.
Suatu
fenomena menarik adalah munculnya enterprice resource planning (ERP)
dan management resource planning (MRP), yang menambah lapisan
substansial dari fitur berorientasi aplikasi pada DBMS utama. Paket yang
digunakan secara luas meliputi Baan, Oracle, PeopleSoft, SAP, dan Siebel. Paket
tersebut mengidentifikasi kumpulan tugas umum (misalnya manajemen inventori,
perencanaan sumber daya manusia, dan analisis keuangan) yang dihadapi oleh
sejumlah besar organisasi dan menyediakan lapisan aplikasi umum untuk
melaksanakan tugas. Data disimpan dalam DBMS relasional.
Kemudian,
lapisan aplikasi dapat disesuaikan pada perusahaan berbeda sehingga biaya
keseluruhan perusahaan menjadi lebih rendah disbanding biaya pembuatan lapisan
aplikasi dari awal. Lebih jauh, DBMS memasuki dunia internet. Saat generasi
pertama, web site menyimpan datanya secara ekskulisif dalam file system
operasi. Pada saat ini, DBMS dapat digunakan untuk menyimpan data yang dapat
diakses melalui web browser. Query dapat dibuat melalui form web dan format
jawabannya dengan menggunakan markup language semisal HTML
untuk mempermudah tampilan pada browser. Semua vendor basisdata menambah fitur
ini untuk DBMS mereka.
Mengenal Big Data
Big Data adalah istilah yang menggambarkan volume data yang besar,
baik data yang terstruktur maupun data yang tidak terstruktur. Big Data telah
digunakan dalam banyak bisnis. Tidak hanya besar data yang menjadi poin utama
tetapi apa yang harus dilakukan organisasi dengan data tersebut. Big Data dapat
dianalisis untuk wawasan yang mengarah pada pengambilan keputusan dan strategi
bisnis yang lebih baik.
Sejarah
Big Data
Istilah Big
Data masih terbilang baru dan sering disebut sebagai tindakan pengumpulan dan
penyimpanan informasi yang besar untuk analisis. Fenomena Big Data, dimulai
pada tahun 2000-an ketika seorang analis industri Doug Laney menyampaikan
konsep Big Data yang terdiri dari tiga bagian penting, diantaranya:
Volume Organisasi mengumpulkan data
dari berbagai sumber, termasuk transaksi bisnis, media sosial dan informasi
dari sensor atau mesin. Di masa lalu, aktivitas semacam ini menjadi masalah,
namun dengan adanya teknologi baru (seperti Hadoop) bisa meredakan masalah ini.
Kecepatan Aliran
data harus ditangani dengan secara cepat dan tepat bisa melalui hardware maupun
software. Teknologi hardware seperti tag RFID, sensor pintar lainnya juga
dibutuhkan untuk menangani data yang real-time.
Variasi Data yang dikumpulkan
mempunyai format yang berbeda-beda. Mulai dari yang terstruktur, data numerik
dalam database tradisional, data dokumen terstruktur teks, email, video, audio,
transaksi keuangan dan lain-lain.
Selain tiga
bagian penting tersebut, para peneliti Big Data juga menambah bagian yang
termasuk penting lainnya seperti variabilitas dan kompleksitas.
Variabilitas
Selain
kecepatan pengumpulan data yang meningkat dan variasi data yang semakin
beraneka ragam, arus data kadang tidak konsisten dalam periode tertentu. Salah
satu contohnya adalah hal yang sedang tren di media sosial. Periodenya bisa
harian, musiman, dipicu peristiwa dadakan dan lain-lain. Beban puncak data
dapat menantang untuk analis Big Data, bahkan dengan data yang tidak
terstruktur.
Kompleksitas
Hari
ini, data berasal dari berbagai sumber sehingga cukup sulit untuk
menghubungkan, mencocokan, membersihkan dan mengubah data di seluruh sistem.
Namun, Big Data sangat dibutuhkan untuk memiliki korelasi antar data, hierarki
dan beberapa keterkaitan data lainnya atau data yang acak.
Potensi
Big Data
Jumlah
data yang telah dibuat dan disimpan pada tingkat global hari ini hampir tak
terbayangkan jumlahnya. Data tersebut terus tumbuh tanpa henti. Artinya, Big
Data memiliki potensi tinggi untuk mengumpulkan wawasan kunci dari informasi
bisnis. Sayangnya sampai saat ini, baru sebagian kecil data yang telah
dianalisis. Big Data dalam bisnis menjadi strategi yang baik dalam mengolah
informasi mentah menjadi keuntungan yang terus mengalir ke organisasi bisnis
setiap hari.
Mengapa
Big Data Penting?
Pentingnya
Big Data, tidak hanya berputar pada jumlah data yang organisasi miliki, tetapi
hal yang penting adalah bagaimana mengolah data internal dan eksternal. Kita
dapat mengambil data dari sumber manapun dan menganalisanya untuk menemukan
jawaban yang diinginkan dalam bisnis seperti:
1) pengurangan biaya
2)
pengurangan waktu
3) pengembangan produk baru dan optimalisasi penawaran
produk
4) pengambilan keputusan yang cerdas.
Ketika
organisasi mampu menggabungkan jumlah data besar yang dimilikinya dengan
analisis bertenaga tinggi, organisasi dapat menyelesaikan tugas-tugas yang
berhubungan dengan bisnis seperti:
Menentukan
akar penyebab kegagalan untuk setiap masalah bisnis.
Menghasilkan
informasi mengenai titik penting penjualan berdasarkan kebiasaan pelanggan
dalam membeli.
Menghitung
kembali seluruh risiko yang ada dalam waktu yang singkat.
Mendeteksi
perilaku penipuan yang dapat mempengaruhi organisasi.
Itulah
sekilas pengenalan Big Data. Istilah Big Data relatif baru, dan bagian penting
konsep Big Data diantaranya adalah Volume, Kecepatan, Varietas, Variabilitas,
dan Kompleksitas. Adapun potensi Big Data hari ini benar-benar menggiurkan
untuk strategi bisnis kedepannya.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ” Berfikir
Deduktif”. Kami juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Margaretha
Sumarwati selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang sudah memberikan
kepercayaan kepada kami untuk menyelesaikan tugas ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka
menambah pengetahuan juga wawasan menyangkut berfikir deduktif dan jenis-jenisnya.
Kami pun menyadari bahwa di dalam makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
mengharapkan adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan kami buat
di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.
Mudah-mudahan makalah sederhana ini dapat dipahami oleh semua
orang khususnya bagi para pembaca. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika
terdapat kata-kata yang kurang berkenan.
Jakarta, 28 September 2017
Kelompok 2
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
1.2Rumusan
Masalah
1.3Tujuan
Penulisan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1Konsep Berfikir Deduktif
2.2Konsep Bernalar Dalam
Karangan
2.3Silogisme
Kategorial
2.4Silogisme
Hipotesis
2.5Silogisme
Alternatif
2.6Entimem
BAB III
PENUTUP
3.1Kesimpulan
3.2Saran
DAFTAR ISI
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung
menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan
aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar
dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah. Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah
dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran
Induktif. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa
umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu
kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali
dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan
operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu
harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya
dilakukan penelitian di lapangan.
Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut,
konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran
induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil
pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru
yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari
penalaran deduktif. Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua
penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan
dilaksanakan dalam suatu wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah
dan taat pada hukum-hukum logika.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun rumusan dari penulisan makalah ini diantaranya adalah :
1.Apa yang dimaksud dengan berfikir
deduktif?
2.Apa yang dimaksud silogisme kategorial, silogisme hipotesis dan silogisme
alternative?
3.Apa yang dimaksud dengan entimem?
1.3
Tujuan Penulisan
Berdasarkan dari pembahasan latar belakang yang sudah
dilampirkan oleh penulis, maka tujuan penulisan ini agar mahasiswa mampu
memahami dan menjelaskan cara berfikir deduktif dan jenis-jenisnya.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Berpikir Deduktif
Berpikir
Deduktif adalah proses berpikir untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau
sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum.
Proses berpikir ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara
deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus
atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif tersebut
dapat dimulai dari suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang
kongkrit. Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan
adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan
imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif
sebagai prestasi sosial dan penanda status social. Penarikan simpulan
(konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula
dilakukan secara tak Langsung.
2.2 Konsep Bernalar dalam Karangan
Bernalar merupakan suatu corak atau cara seseorang mengunakan nalarnya
dalam menarik kesimpulan sebelum akhirnya orang tersebut berpendapat dan
dikemukakannya kepada orang lain.
Pola bernalar secara sederhana dibedakan menjadi dua
deduktif dan induktif. Pola penalaran deduktif menggunakan bentuk
bernalar deduksi. Deduksi secara etimologis berasal dari kata de dan ducere,
yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih
umum/universal. Perihal khusus tertsebut secara implisit terkadung dalam yang
lebih umum. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan universal
ke singular atau individual.
Dalam
konteks demikian terdapat prinsip, hukum, teori, atau putusan lain yang berlaku
umum suatu suatu hal, peristiwa, atau gejala. Perhatikan contoh berikut :
1.Semua siswa-siswi
kelas XII IPA SMA Gila Nama memperoleh predikat lulus100 % dan memuaskan serta
menduduki peringkat empat besar dalam Unjian Nasional tahun lalu. Tetanggaku,
Kenthus yang agak nyleneh itu, siswa kelas XII IPA di sekolah itu. Maka,
pastilah si Kenthus lulus dengan predikat memuaskan serta baik nilainya.
2.Semua warga RT 5 / RW
3 Kampung Getah Basah yang ikut memeriahkan peringatan HUT ke-61 Republik
Indonesia dengan mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan berarti memiliki
sikap nasionalisme yang baik. Pamanku si gendut lagi pula warga kampung itu
juga ikut memeriahkan peringatan HUT ke-61 Republik Indonesia dengan mengikuti
berbagai acara yang diselenggarakan. Pasti, pamanku itu sikap nasionalismenya
baik.
Apabila
kita cermati, kedua contoh di atas menggunakan pola penalaran deduktif, yaitu
pola penalaran yang berdasar dari pernyataan yang bersifat umum kemudian
mengkhusus. Tipe penalaran seperti ini bermula dari suatu peryataan yang
berlaku untuk semua anggota populasi dari suatu komunitas.
Berdasarkan hal ini ditariklah kesimpulan yang
mengenai salah satu individu anggota komunitas itu. Jika menggunakan penalaran
seperti ini, tidak mungkinkah kita terjebak dalam sustu pola
penyamarataandengan generalisasi atau apriori? Dalam konteks demikian, lebih
baik bila kita memadukan pola deduktif dan induktif, terutama kaitannya dengan
kehidupan sehari-hari untuk menghdindarkan diri dari kesalahan nalar yang bisa
berakibat fatal bagi kita. Kemahiran memadukan kedua tipe penalaran ini membawa
kita ke arah penalaran yang analistis, kritis, dan intuitif tajam. Apalagi bila
hal tersebut bertumpu pada kelengkapan dan akurasi data, fakta, evidensi, dan
bukti yang akan memperlihatkan kesahihan dan kecerdasan berpikir.
2.3 Silogisme Kategorial
Silogisme
kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang
kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis
mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis
minor.
Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
·Premis
Umum : Premis Mayor (My)
·Premis
Khusus : Premis Minor (Mn)
·Premis Simpulan :
Premis Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term
mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai
berikut :
1.Silogisme harus
terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah
2.Silogisme terdiri atas
tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
3.Dua premis yang
negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
4.Bila salah satu
premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
5.Dari premis yang
postif, akan dihasilkan simpulan yang positif
6.Dari dua premis yang
khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
7.Bila premisnya khusus,
simpulan akan bersifat khusus.
8.Dari premis mayor
khusus dan premis mayor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh silogisme Kategorial :
1.My : Semua
pekerja di Sharp adalah lulusan S1.
2.Mn : Novry
adalah pekerja.
3.K
: Novry lulusan S1.
4.My : Tidak ada
manusia yang sempurna.
5.Mn : Novry
adalah manusia.
6.K
: Novry tidak sempurna.
7.My : Semua
pekerja memiliki keahlian.
8.Mn : Novry tidak
memiliki keahlian.
9.K
: Novry bukan pekerja.
2.4 Silogisme Hipotesis
Silogisme
hipotesis terdiri dari suatu putusan bersayarat sebagai ”mayor” dalam bentuk
”apabila p maka q”(”p”dan ”q”adalah dua proposisi), lalu suatu ”minor”yang
dapat terjadi dalam empat bentuk,dan akhirnya kesimpulan.
Silogisme Hipotesis adalah jenis silogisme yang
terdiri atas premis mayor yang bersifat hipotesis, dan premis minornya bersifat
katagorial. Silogisme Hipotesis ini dapat dibedakan menjadi 4 macam , yaiu :
1.Silogisme hipotesis
yang premis minornya mengakui bagian antecedent.
Contoh :
Jika hari ini
cerah , saya akan ke rumah kakek ( premis mayor )
Hari ini cerah
( premis minor )
Maka saya akan
kerumah kakek ( kesimpulan ).
2.Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian konsekuen
Contoh :
Jika hutan banyak yang
gundul , maka akan terjadi global warming ( premis mayor )
Sekarang terjadi
global warming ( premis minor )
Maka hutan banyak yang
gundul ( kesimpulan ).
3.Silogisme hipotesis
yang premis minornya mengingkari antecedent
Contoh :
Jika pembuatan karya
tulis ilmiah belum di persiapkan dari sekarang, maka hasil tidak akan maksimal pembuatan
karya ilmiah telah di persiapkan maka hasil akan maksimal
4.Silogisme hipotesis
yang premis minornya mengingkari konsekuen
Contoh :
Bila presiden Mubarak
tidak turun , Para demonstran akan turun ke jalan
Para demonstran akan
turun ke jalan
Jadi presiden Mubarak
tidak turun.
2.5 Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri
atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila
premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan
menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Mayor : Nenek susi berada di Bandung atau Wonosobo.
Minor : Nenek Susi berada di Bandung.
Kesimpulan : Jadi, Nenek Susi tidak berada di Wonosobo.
Mayor : Nenek Susi berada di Bandung atau Wonosobo.
Minor : Nenek Susi tidak berada di Wonosobo.
Kesimpulan : Jadi, Nenek Susi berada di Bandung.
Kaidah Silogisme Alternatif
1.Silogisme
alternatif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur
penyimpulannya valid, seperti:
Hasan berbaju putih atau tidak putih.
Ternyata berbaju putih.
Jadi ia bukan tidak berbaju putih.
Hasan berbaju putih atau tidak putih.
Ternyata ia tidak berbaju putih.
Jadi ia berbaju non-putih.
2.Silogisme
alternatif dalam arti luas, kebenaran koi adalah sebagai berikut:
a.Bila premis minor mengakui
salah satu alterna konklusinya sah (benar), seperti:
Budi menjadi guru
atau pelaut.
la adalah guru.
Jadi bukan pelaut
Budi menjadi guru
atau pelaut.
la adalah pelaut.
Jadi bukan guru
b.Bila premis minor mengingkari
salah satu konklusinya tidak sah (salah), seperti:
Penjahat itu lari ke Solo
atau ke Yogya.
Ternyata tidak lari ke Yogya.
Jadi ia lari ke Solo. (Bisa
jadi ia lari ke kota lain).
Budi menjadi guru atau
pelaut.
Ternyata ia bukan pelaut.
Jadi ia guru. (Bisa jadi ia
seorang pedagang).
2.6 Entimem
Entimem adalah
penalaran deduksi secara langsung. Entimem ini pada dasarnya adalah
silogisme. Tetapi, di dalam entimem salah satu premisnya dihilangkan/tidak
diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contoh:
Menipu adalah dosa
karena merugikan orang lain.
Kalimat di atas dapat
dipenggal menjadi dua:
a.menipu adalah dosa
b.karena (menipu) merugikan
orang lain.
Kalimat a merupakan
kesimpulan sedangkan kalimat b adalah premis minor (karena bersifat khusus).
Maka silogisme dapat disusun:
Mn : menipu
merugikan orang lain
K :menipu
adalah dosa.
Dalam kalimat di
atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor. Untuk melengkapinya kita
harus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat lebih umum, jadi tidak mungkin
subjeknva "menipu". Kita dapat menalar kembali dan menemukan premis
mayornya: Perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa. Untuk mengubah
entimem menjadi silogisme, mula-mula kita cari dulu ke-simpulannya. Kata-kata yang
menandakan kesimpulan ialah kata-kata seperti jadi, maka, karena itu, dengan
demikian, dan sebagainya. Kalau sudah, kita temukan apa premis yang
dihilangkan.
Contoh lain:
Pada malam hari tidak
ada matahari, jadi tidak mungkin terjadi proses fotosintesis.
Bagaimana bentuk
silogismenya?
My : Proses
fotosintesis memerlukan sinar matahari
Mn : Pada malam hari
tidak ada matahari
K : Pada malam hari
tidak mungkin ada fotosintesis.
Sebaiknya, kita juga dapat
mengubah silogisme ke dalam entimem, yaitu dengan menghilangkan salah satu
premisnya
BAB 3
PENUTUP
3.1KESIMPULAN
Aspek
penalaran sangat diperhatikan dalam setiap penulisan karangan ataupun jenis
tulisan lainnya karena itu, seorang penulis harus mengenal kriteria dan
mengetahui prinsip-prinsip proses penaksiran fakta dan kebenaran penarikan
kesimpulan yang sah dalam tulisan yang dibacanya.
3.2 SARAN
Setelah membaca makalah ini diharapkan para
pembaca agar dapat memahami bagaimana cara berfikir deduktif yang baik menurut
tata Bahasa Indonesia. Selain itu diharapkan pembaca dapat menerapkan
ilmu yang didapat dalam makalah ini dalam penulisan karya ilmiah ataupun
sejenisnya.
I'm a girl with a thousand imagination. I'm not stupid, i'm just don't know how to do for the 1st time. Let's be friend! And you'll fallin love with me. Yeay!!!
, click here →