KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ” Berfikir
Deduktif”. Kami juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Margaretha
Sumarwati selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang sudah memberikan
kepercayaan kepada kami untuk menyelesaikan tugas ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka
menambah pengetahuan juga wawasan menyangkut berfikir deduktif dan jenis-jenisnya.
Kami pun menyadari bahwa di dalam makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
mengharapkan adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan kami buat
di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.
Mudah-mudahan makalah sederhana ini dapat dipahami oleh semua
orang khususnya bagi para pembaca. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika
terdapat kata-kata yang kurang berkenan.
Jakarta, 28 September 2017
Kelompok 2
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan
Masalah
1.3 Tujuan
Penulisan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Berfikir Deduktif
2.2 Konsep Bernalar Dalam
Karangan
2.3 Silogisme
Kategorial
2.4 Silogisme
Hipotesis
2.5 Silogisme
Alternatif
2.6 Entimem
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR ISI
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung
menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan
aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar
dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah. Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah
dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran
Induktif. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa
umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu
kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali
dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan
operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu
harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya
dilakukan penelitian di lapangan.
Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut,
konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran
induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil
pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru
yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari
penalaran deduktif. Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua
penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan
dilaksanakan dalam suatu wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah
dan taat pada hukum-hukum logika.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun rumusan dari penulisan makalah ini diantaranya adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan berfikir
deduktif?
2. Apa yang dimaksud silogisme kategorial, silogisme hipotesis dan silogisme
alternative?
3. Apa yang dimaksud dengan entimem?
1.3
Tujuan Penulisan
Berdasarkan dari pembahasan latar belakang yang sudah
dilampirkan oleh penulis, maka tujuan penulisan ini agar mahasiswa mampu
memahami dan menjelaskan cara berfikir deduktif dan jenis-jenisnya.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Berpikir Deduktif
Berpikir
Deduktif adalah proses berpikir untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau
sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum.
Proses berpikir ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara
deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus
atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif tersebut
dapat dimulai dari suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang
kongkrit. Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan
adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan
imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif
sebagai prestasi sosial dan penanda status social. Penarikan simpulan
(konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula
dilakukan secara tak Langsung.
2.2 Konsep Bernalar dalam Karangan
Bernalar merupakan suatu corak atau cara seseorang mengunakan nalarnya
dalam menarik kesimpulan sebelum akhirnya orang tersebut berpendapat dan
dikemukakannya kepada orang lain.
Pola bernalar secara sederhana dibedakan menjadi dua
deduktif dan induktif. Pola penalaran deduktif menggunakan bentuk
bernalar deduksi. Deduksi secara etimologis berasal dari kata de dan ducere,
yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih
umum/universal. Perihal khusus tertsebut secara implisit terkadung dalam yang
lebih umum. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan universal
ke singular atau individual.
Dalam
konteks demikian terdapat prinsip, hukum, teori, atau putusan lain yang berlaku
umum suatu suatu hal, peristiwa, atau gejala. Perhatikan contoh berikut :
1.
Semua siswa-siswi
kelas XII IPA SMA Gila Nama memperoleh predikat lulus100 % dan memuaskan serta
menduduki peringkat empat besar dalam Unjian Nasional tahun lalu. Tetanggaku,
Kenthus yang agak nyleneh itu, siswa kelas XII IPA di sekolah itu. Maka,
pastilah si Kenthus lulus dengan predikat memuaskan serta baik nilainya.
2.
Semua warga RT 5 / RW
3 Kampung Getah Basah yang ikut memeriahkan peringatan HUT ke-61 Republik
Indonesia dengan mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan berarti memiliki
sikap nasionalisme yang baik. Pamanku si gendut lagi pula warga kampung itu
juga ikut memeriahkan peringatan HUT ke-61 Republik Indonesia dengan mengikuti
berbagai acara yang diselenggarakan. Pasti, pamanku itu sikap nasionalismenya
baik.
Apabila
kita cermati, kedua contoh di atas menggunakan pola penalaran deduktif, yaitu
pola penalaran yang berdasar dari pernyataan yang bersifat umum kemudian
mengkhusus. Tipe penalaran seperti ini bermula dari suatu peryataan yang
berlaku untuk semua anggota populasi dari suatu komunitas.
Berdasarkan hal ini ditariklah kesimpulan yang
mengenai salah satu individu anggota komunitas itu. Jika menggunakan penalaran
seperti ini, tidak mungkinkah kita terjebak dalam sustu pola
penyamarataandengan generalisasi atau apriori? Dalam konteks demikian, lebih
baik bila kita memadukan pola deduktif dan induktif, terutama kaitannya dengan
kehidupan sehari-hari untuk menghdindarkan diri dari kesalahan nalar yang bisa
berakibat fatal bagi kita. Kemahiran memadukan kedua tipe penalaran ini membawa
kita ke arah penalaran yang analistis, kritis, dan intuitif tajam. Apalagi bila
hal tersebut bertumpu pada kelengkapan dan akurasi data, fakta, evidensi, dan
bukti yang akan memperlihatkan kesahihan dan kecerdasan berpikir.
2.3 Silogisme Kategorial
Silogisme
kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang
kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis
mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis
minor.
Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
·
Premis
Umum : Premis Mayor (My)
·
Premis
Khusus : Premis Minor (Mn)
·
Premis Simpulan :
Premis Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term
mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai
berikut :
1.
Silogisme harus
terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah
2.
Silogisme terdiri atas
tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
3.
Dua premis yang
negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
4.
Bila salah satu
premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
5.
Dari premis yang
postif, akan dihasilkan simpulan yang positif
6.
Dari dua premis yang
khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
7.
Bila premisnya khusus,
simpulan akan bersifat khusus.
8.
Dari premis mayor
khusus dan premis mayor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh silogisme Kategorial :
1.
My : Semua
pekerja di Sharp adalah lulusan S1.
2.
Mn : Novry
adalah pekerja.
3.
K
: Novry lulusan S1.
4.
My : Tidak ada
manusia yang sempurna.
5.
Mn : Novry
adalah manusia.
6.
K
: Novry tidak sempurna.
7.
My : Semua
pekerja memiliki keahlian.
8.
Mn : Novry tidak
memiliki keahlian.
9.
K
: Novry bukan pekerja.
2.4 Silogisme Hipotesis
Silogisme
hipotesis terdiri dari suatu putusan bersayarat sebagai ”mayor” dalam bentuk
”apabila p maka q”(”p”dan ”q”adalah dua proposisi), lalu suatu ”minor”yang
dapat terjadi dalam empat bentuk,dan akhirnya kesimpulan.
Silogisme Hipotesis adalah jenis silogisme yang
terdiri atas premis mayor yang bersifat hipotesis, dan premis minornya bersifat
katagorial. Silogisme Hipotesis ini dapat dibedakan menjadi 4 macam , yaiu :
1.
Silogisme hipotesis
yang premis minornya mengakui bagian antecedent.
Contoh :
Jika hari ini
cerah , saya akan ke rumah kakek ( premis mayor )
Hari ini cerah
( premis minor )
Maka saya akan
kerumah kakek ( kesimpulan ).
2.
Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian konsekuen
Contoh :
Jika hutan banyak yang
gundul , maka akan terjadi global warming ( premis mayor )
Sekarang terjadi
global warming ( premis minor )
Maka hutan banyak yang
gundul ( kesimpulan ).
3.
Silogisme hipotesis
yang premis minornya mengingkari antecedent
Contoh :
Jika pembuatan karya
tulis ilmiah belum di persiapkan dari sekarang, maka hasil tidak akan maksimal pembuatan
karya ilmiah telah di persiapkan maka hasil akan maksimal
4.
Silogisme hipotesis
yang premis minornya mengingkari konsekuen
Contoh :
Bila presiden Mubarak
tidak turun , Para demonstran akan turun ke jalan
Para demonstran akan
turun ke jalan
Jadi presiden Mubarak
tidak turun.
2.5 Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri
atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila
premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan
menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Mayor : Nenek susi berada di Bandung atau Wonosobo.
Minor : Nenek Susi berada di Bandung.
Kesimpulan : Jadi, Nenek Susi tidak berada di Wonosobo.
Mayor : Nenek Susi berada di Bandung atau Wonosobo.
Minor : Nenek Susi tidak berada di Wonosobo.
Kesimpulan : Jadi, Nenek Susi berada di Bandung.
Kaidah Silogisme Alternatif
1. Silogisme
alternatif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur
penyimpulannya valid, seperti:
Hasan berbaju putih atau tidak putih.
Ternyata berbaju putih.
Jadi ia bukan tidak berbaju putih.
Hasan berbaju putih atau tidak putih.
Ternyata ia tidak berbaju putih.
Jadi ia berbaju non-putih.
2.
Silogisme
alternatif dalam arti luas, kebenaran koi adalah sebagai berikut:
a. Bila premis minor mengakui
salah satu alterna konklusinya sah (benar), seperti:
Budi menjadi guru
atau pelaut.
la adalah guru.
Jadi bukan pelaut
Budi menjadi guru
atau pelaut.
la adalah pelaut.
Jadi bukan guru
b. Bila premis minor mengingkari
salah satu konklusinya tidak sah (salah), seperti:
Penjahat itu lari ke Solo
atau ke Yogya.
Ternyata tidak lari ke Yogya.
Jadi ia lari ke Solo. (Bisa
jadi ia lari ke kota lain).
Budi menjadi guru atau
pelaut.
Ternyata ia bukan pelaut.
Jadi ia guru. (Bisa jadi ia
seorang pedagang).
2.6 Entimem
Entimem adalah
penalaran deduksi secara langsung. Entimem ini pada dasarnya adalah
silogisme. Tetapi, di dalam entimem salah satu premisnya dihilangkan/tidak
diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contoh:
Menipu adalah dosa
karena merugikan orang lain.
Kalimat di atas dapat
dipenggal menjadi dua:
a. menipu adalah dosa
b. karena (menipu) merugikan
orang lain.
Kalimat a merupakan
kesimpulan sedangkan kalimat b adalah premis minor (karena bersifat khusus).
Maka silogisme dapat disusun:
Mn : menipu
merugikan orang lain
K :menipu
adalah dosa.
Dalam kalimat di
atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor. Untuk melengkapinya kita
harus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat lebih umum, jadi tidak mungkin
subjeknva "menipu". Kita dapat menalar kembali dan menemukan premis
mayornya: Perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa. Untuk mengubah
entimem menjadi silogisme, mula-mula kita cari dulu ke-simpulannya. Kata-kata yang
menandakan kesimpulan ialah kata-kata seperti jadi, maka, karena itu, dengan
demikian, dan sebagainya. Kalau sudah, kita temukan apa premis yang
dihilangkan.
Contoh lain:
Pada malam hari tidak
ada matahari, jadi tidak mungkin terjadi proses fotosintesis.
Bagaimana bentuk
silogismenya?
My : Proses
fotosintesis memerlukan sinar matahari
Mn : Pada malam hari
tidak ada matahari
K : Pada malam hari
tidak mungkin ada fotosintesis.
Sebaiknya, kita juga dapat
mengubah silogisme ke dalam entimem, yaitu dengan menghilangkan salah satu
premisnya
BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Aspek
penalaran sangat diperhatikan dalam setiap penulisan karangan ataupun jenis
tulisan lainnya karena itu, seorang penulis harus mengenal kriteria dan
mengetahui prinsip-prinsip proses penaksiran fakta dan kebenaran penarikan
kesimpulan yang sah dalam tulisan yang dibacanya.
3.2 SARAN
Setelah membaca makalah ini diharapkan para
pembaca agar dapat memahami bagaimana cara berfikir deduktif yang baik menurut
tata Bahasa Indonesia. Selain itu diharapkan pembaca dapat menerapkan
ilmu yang didapat dalam makalah ini dalam penulisan karya ilmiah ataupun
sejenisnya.
Daftar Pustaka
http://oekoekpunya.blogspot.co.id/2013/06/makalah-bahasa-indonesia-paragraf.html
http://fadhilah-ms3.blogspot.co.id/2014/01/silogisme-hipotesis.html
http://hariezfadhilah.blogspot.co.id/2013/12/penalaran-karangan.html
https://ahmadzackyfitra.wordpress.com/2015/04/01/makalah-bahasa-indonesia-penalaranberpikir-induktif-dan-berpikir-deduktif/
http://penalaran-dalam-karangan.blogspot.co.id/
http://triezdamila.blogspot.co.id/p/penalaran.html
http://fadhilah-ms3.blogspot.co.id/2014/01/silogisme-hipotesis.html?m=1

No comments:
Post a Comment